semakin hari, dunia blog makin rame. ada yang untuk bisnis, ada yang hanya iseng, hingga untuk menyalurkan bakat yang tak terekspos.
lalu untuk apa aku nulis di blog?
aku sendiri tak mengerti. cuma isengĀ sebenarnya. tapi aku mulai berpikiran lain.
orang-orang yang suka ngeblog -menurut pengamatanku- adalah orang yang sebenarnya pendiam tapi memiliki pemikiran yang tidak bisa diam. Mungkin mereka punya banyak teman, tapi sebenarnya mereka sangat tertutup.
Terlalu tertutup hingga kawannya tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Mereka sangat ahli berakting. Terlihat ceria di tengah kegundahannya. Terlihat riang di tengah kesepian dirinya.
Pemikiran mereka yang tidak bisa diam ujungnya hanya dipendam dalam-dalam. Perasaan dan emosi yang meledak hanya dibenamkan dalam kediaman.
Tak ada niat untuk diceritakan kepada kawan. Bukan karena malu, bukan karena takut tersebar, tapi karena memang ingin dipendam. Bagi orang-orang seperti ini, merenungkan”nya” lebih terasa nyaman dari pada mengungkapkan”nya”.
Hingga suatu saat mereka jenuh, bingung untuk mengungkapkan. Kepada siapa mereka bercerita. Ingin rasanya kawan mereka tahu tentang perasaan mereka, tetapi malas rasanya untuk menceritakannya. Dan bloglah mungkin jalan keluarnya.
Terasa lebih seru untuk mengungkapkannya tanpa peduli siapa yang membacanya. Dunia yang bebas lepas.
Anda termasuk tipe blogger yang mana?
Aku merasa aku termasuk orang yang baru saja aku jelaskan panjang lebar. aku bisa bercerita, karena mungkin aku sendiri yang merasakannya. Entahlah…





Wah2 mas rizal ni pantes jadi ahli peramalan ya, bisa mengerti akan seseorang yang suka nge Blog. Ntar nama u bisa berubah jadi Papa Rizal torent eh loren, pengganti mama torent, he2. Jangan2 kmu juga berbakat jadi ahli fengshui zal? hahahaha -just kidding-
Kalo aku sih ngeblog untuk nyalurin tulisanku, terutama cerpen hehehehe…
“yea, that’s right! we’re able to get freedom from this”
heum…cuma igauanku saat aku sedang merasa sangat melankolis banget ni…hehehehe
tapi aku sendiri merasa belum mengenal diriku sendiri