23
Jun
08

Daun Hijau dan Ulat

Telah dua bulan musim hujan berlalu sehingga di mana-mana pepohonan nampak
menghijau. Kelihatan seekor ulat di antara dedaun menghijau yang bergoyang-goyang
diterpa angin.
“Apa kabar daun hijau?”, sapanya.
Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. “Oh, kamu ulat. Badanmu
kelihatan kurus dan kecil, mengapa?”, tanya daun hijau.
“Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bolehkah engkau
membantuku sahabat?”, kata ulat kecil.
“Tentu.. tentu.. dekatlah kemari.”
Daun hijau berfikir, “Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si
ulat, aku akan tetap hijau. Hanya saja aku akan kelihatan berlubang-lubang. Tapi
tak apalah.”
Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau.
Setelah makan dengan kenyang ulat berterimakasih kepada daun hijau yang telah
merelakan bahagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan
terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih sayang dan pengorbanan itu, ada rasa puas
di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana-sini namun ia
bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang
ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya
ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.

Apa yang terlalu berarti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja
bagi sesama? Akhirnya semua yang ada akan kembali pada Alloh SWT. Daun rela
melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan
kepentingan diri sendiri.
Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak
mudah, tetapi indah. Ketika berkorban diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau
yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita, kita akan
tetap hijau, Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita.
Bagi daun hijau, berkorban merupakan sesuatu perkara yang mengesankan dan
terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya dapat tersenyum
kerana pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya kerana menyedari
bahawa ia tidak akan selamanya menjadi “daun hijau” dan memiliki keindahan. Suatu hari ia akan
kering dan jatuh juga.
Demikianlah kehidupan kita. Hidup ini hanya sementara, kemudian kita akan mati.
Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan,
pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.
Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa
sukacita tersendiri bagi anda. Kita dapat berkorban dalam banyak perkara.
Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka,memberikan
apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang dapat kita lakukan.
Yang mana yang sering kita lakukan? Menjadi ulat kecil yang menerima kebaikan
orang atau menjadi daun hijau yang senang memberi kebaikan.


3 Responses to “Daun Hijau dan Ulat”


  1. 1 poppota
    June 26, 2008 at 2:54 pm

    tidak bisa selalu meminta…
    tapi juga harus memberi..
    kita, tidak bisa selamanya bertumpu pada orang lain, juga tidak bisa pula kita tidak bergantung pada orang lain…

    life’s a balance… it’s about taking and giving

  2. June 30, 2008 at 9:34 am

    ngarang dewe Zal….?!
    hehehe,
    liat blogQ dFS yo…
    trs kasih comment

  3. 3 morgen
    July 9, 2008 at 11:29 am

    I am not the first who give a comment….
    Afwan ya?????


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


my nationality

writer


struggling for whole happiness "Muhamad Rizal Avif Khan"
Share |